Tuesday, January 16, 2007

hINdari "smOKing gUn"

By Taqyuddin Kadir
Anda pasti pernah mendengar istilah "Smoking Gun" bukan ? Jika anda pernah membuat catatan atau menyampaikan surat kepada orang lain, yang isinya mengandung pernyataan yang signifikan yang anda tidak sadari, dan bahkan anda sendiri sudah melupakannya dan menganggap tidak ada masalah dengan catatan atau surat itu, tapi tiba-tiba suatu saat surat anda itu digunakan oleh orang lain sebagai dasar untuk menuntut atau menggugat anda, maka surat anda tersebut, telah bekerja sebagai smoking gun.
Seorang manager HRD mengirim email ke sekretarisnya, "Mel (nama samaran), kita makan siang di luar yuk". "Makan siang dimana pak" tanya si sekretaris itu. "Kalau makan siang di rumah kamu gimana ?" tulis lebih lanjut manajer tadi dengan nada bertanya. "Wah di rumah saya kan nggak ada orang pak, cuma saya sendiri, jadi nggak ada yang siapin makanan, lagian di rumah nggak ada tuh persiapan buat makan siang" jelas sekertaris. "Nggak apa-apa Mel, kalau di rumah kamu kan, kita nggak harus makan siang, kita bisa melakukan aktivitas lain yang membuat kita berdua bisa happy, stres hilang" ...... lanjut si bos alias manajer tadi. Sang sekretaris tidak lagi tertarik melanjutkan surat menyurat elektornik itu. Makan siang bareng pun jadi batal.
Merasa ajakannya makan siang ditolak, sang Manajer kesal dan menyimpan dendam dalam hati. Sejak kejadian itu, hubungan keduanya menjadi tidak harmonis.
Suatu ketika Manajer tadi menemukan kesalahan yang dilakukan sekertarisnya yang terkait dengan pekerjaan kantor, kesalahan mana sebenarnya sengaja didesain oleh manajer tadi. Kesalahan tersebut bergulir lalu menghasilkan serangkaian kesalahan baru yang ujung-ujungnya, dilakukan PHK terhadap sekretaris tadi.
Tentu saja sekretaris itu tidak menerima PHK dan lalu menunjuk lawyer untuk membela kepentingannya.
Ketika lawyer tersebut menunjukkan printout email tersebut kepada sang manajer, dan menjelaskan bahwa kejadian itulah sebenarnya yang menjadi pemicu PHK bukan yang lain-lain. Sang manajer nampak sangat kaget dan tidak menyangka jika hal itu akan terungkap. Dia akhirnya tidak dapat berbuat banyak, selain minta maaf. Tapi Sekretaris itu tidak menerima permintaan maaf, bahkan melaporkan tindakan manajer tersebut kepada direksi.
Memori di kepala kita bisa saja musnah, tapi apa yang sudah tertulis, tidak gampang kita kontrol apalgi jika berada dalam penguasaan orang lain. Itulah sebabnya, smoking gun seringkali menjadi bahan bakar bagi meluapnya risiko hukum.
Akhirnya, sang manajer tadi terpaksa lebih dulu harus meninggalkan perusahaan yang sangat dibanggkannya itu, karena dewan direksi telah memutuskan bahwa si Manajer tadi telah melanggar "code of conduct" dengan serius, dimana perbuatannya dapat digolongkan sebagai pelecehan seks. Dari sisi moral, tentu saja yang harus dihindari adalah perbuatannya, bukan cuma "Smoking Gun"nya.

0 comments: